Logistik

Efektivitas Tol Laut dalam Mengintegrasi Harga Produk Lokal

17 Juli 2017
414 Kali Dilihat

Program Tol Laut adalah salah satu bentuk komitmen dari pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim. Tol Laut merupakan jalur layaran yang bebas hambatan dan atau konektivitas laut yang efektif berupa adanya kapal yang melayari secara rutin dan terjadwal dari barat sampai ke timur Indonesia.[1] Sebagai konektivitas laut terdapat alur utama Tol Laut yang menghubungkan 6 pelabuhan utama yakni, Pelabuhan Belawan di Medan, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Pelabuhan Makassar di Makassar, Pelabuhan Bitung di Bitung, serta Pelabuhan Teluk Bintuni di Sorong. Alur utama tersebut dimaksudkan agar distribusi barang ke daerah terpencil, khususnya kawasan Indonesia Timur, menjadi efektif dan biaya pengangkutan menjadi lebih rendah.

    Program yang diresmikan pada 4 November 2015 oleh Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, dan Menteri Perdagangan, Thomas Lembong di Tanjung Priok, Jakarta Utara ini telah menunjukkan hasil yang positif serta efektif dalam mengintegrasi harga barang di wilayah Indonesia timur. Berdasarkan website kerjanyata.id, dari tahun 2014 hingga 2016 terdapat peningkatan trayek Tol Laut yang diikuti dengan turunnya harga komoditas. Seperti turunnya harga beras sebesar 11% di Wanci, Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara; 5% di Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara; 12% di Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur; serta 22% di Namlea, Buru, Maluku.

    Namun program Tol Laut yang sudah aktif di beberapa rute dinilai cenderung efektif pada satu arah karena baru membawa bahan pokok dari wilayah Jawa ke kawasan Indonesia timur sedangkan rute sebaliknya, pengangkutan barang ke wilayah Jawa, belum optimal sehingga harga produk lokal dari Indonesia timur cenderung tidak turun. Apabila kapal tidak mengangkut balik barang ke wilayah-wilayah Barat maka tidak terjadi perimbangan sehingga membuat tol laut secara komersial, operasionalnya menjadi tanggungan atau didukung oleh anggaran dari pemerintah.[2] Hal tersebut membuat Tol Laut menjadi tidak optimal dalam mengintegrasi harga produk dari Indonesia timur di kawasan Indonesia barat.

    Terlepas dari usaha pemerintah dalam membangun proyek Tol Laut dan memaksimalkan penggunannya, kita berharap melalui Tol Laut dapat tercipta konektivitas sebagai wujud Indonesia sentris, mencapai pemerataan ekonomi dan yang utama adalah mewujudkan sila kelima Pancasila yakni, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

[1] Bambang Prihartono, Pengembangan Tol Laut Dalam RPJMN 2015-2019 dan Impelementasi 2015, Bappenas

[2] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3480031/dimulai-sejak-2015-bagaimana-perkembangan-tol-laut-jokowi


Ceritakan Solusi

avatar

0 Cerita

PROBLEM

 

Selalu tahu yang terbaru