Ketahanan Pangan

Indonesia Masih Belum Mampu Memenuhi Pakan Utama Masyarakat

02 Oktober 2017
272 Kali Dilihat

Indonesia dikenal sebagai negara agraris dimana keberadaan sumber daya alamnya yang melimpah didukung dengan posisi Indonesia yang berada di khatulistiwa membuat Indonesia sebagai negara beriklim tropis. Disebut sebagai negara agraris karena sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam.
Pada tahun 2016 Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan mengumumkan bahwa Indonesia tidak lagi impor karena telah dapat melakukan swasembada beras. Namun, impor beras ini tidak bisa benar-benar dihapuskan. Hanya beras yang berjenis medium yang tidak lagi diimpor. Akan tetapi, untuk beras premium masih tetap dilakukan impor. Beras premium ini dibutuhkan untuk digunakan oleh industri makanan dan restoran di Indonesia yang membutuhkan kualitas beras diatas rata-rata. Dimana pasokan beras premium di Indonesia masih belum mencukupi permintaan. Salah satu penyebab dari derasnya impor beras karena terjadi disparitas harga beras domestik dan global. Hal itu menyebabkan Indonesia dinilai sebagai pasar yang menguntungkan. Menurut Bustanul,‎ biaya produksi padi di Indonesia sangat mahal, bisa mencapai 2,5 kali lipat dibandingkan ‎Vietnam.
Indonesia menempati urutan pertama dalam tingginya biaya panen dan perawatan padi dibandingkan negara-negara penghasil beras seperti Vietnam, Tiongkok, India, Thailand dan Filipina. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Kamis (16/3/2017), beras impor yang masuk sepanjang periode Januari-Februari 2017 yakni sebesar 14.473 ton dengan nilai US$ 11,94 juta. Impor tersebut naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya di mana impornya tercatat sebesar 2.000 ton dengan nilai US$ 1,08 juta. Jika dirinci per negara asal, impor beras terbesar berasal dari Pakistan sebesar 6.500 ton (US$ 2,19 juta), disusul India sebanyak 3.510 ton (US$ 1,27 juta), China sebesar 2.213 ton (US$ 7,33 juta), Thailand sebesar 1.500 ton (US$ 891 ribu), dan Vietnam sebesar 750 ton (US$ 247 ribu).
Untuk memaksimalkan kondisi pertanian, pemerintah bersama Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan TNI AD dan Perum Bulog dan Pemerintah Daerah membentuk tim Serap Gabah Petani (SERGAP). Berdasarkan penelitian yang dilakukan SERGAP, pada periode Januari hingga 25 Maret 2017 telah menyerap 754.330 ton gabah atau 377.165 ton setara beras meningkat 420 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2016.Pada periode Maret hingga Agustus 2017, prediksi produksi sebesar 33,64 juta ton gabah kering giling, perlu diserap secara baik sehingga petani dapat memperoleh keuntungan yang adil dan cadangan beras di Perum Bulog meningkat.

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/02/19/163912926/negara.agraris.mengapa.harga.pangan.di.in
donesia.rawan.bergejolak.
https://finance.detik.com/berita-ekonomi- bisnis/3386153/ri-masih- impor-beras- 12-juta- ton-di- 2016-ini-
penjelasan-kementan
http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2017/07/10/impor- beras-masih- tinggi-404884

http://ekonomi.kompas.com/read/2017/03/28/123205526/kemendag.benarkan.indonesia.tidak.lagi.im
por.beras
https://finance.detik.com/berita-ekonomi- bisnis/3448448/ri-impor- beras-di- awal-tahun- 2017-paling-
banyak-dari- pakistan


Ceritakan Solusi

avatar

0 Cerita

PROBLEM

 

Selalu tahu yang terbaru