Ketahanan Pangan

Indonesia Samudra Garam-Masih Perlukah Impor

02 Oktober 2017
327 Kali Dilihat

Kekayaan alam dan laut luas terbentang dari sabang hingga merauke. Indonesia merupakan negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan panjang 99.093 km. Sayangnya, Indonesia masih belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, hingga impor pun menjadi pilihan. Salah satunya belum dapat memenuhi komoditas garam dalam negeri. Fakta terbaru yang kita dapat bahwa pemerintah Indonesia akan membuka keran impor garam konsumsi sebanyak 75000 ton. Dikutip dari Detik Finance, BUMN harus mengimpor garam dari Australia sebanyak 75000 ton sebelum 10 Agustus 2017. Lalu, bagaimana bisa, Indonesia yang memiliki samudra yang begitu luas, sumber daya alam tak terbatas, masih perlu impor?
Keputusan pemerintah untuk impor bukan tanpa alasan. Kondisi cuaca dan rendahnya produktivitas menjadi penyebab utama. Hanya sebagaian daerah di Indonesia yang memproduksi dan dijadikan lokasi tambak garam. Sekjen Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia, Cucu Sutara, yang di kutip dari BBC Indonesia menuturkan bahwa hanya 26.024 hektar lahan yang cocok dijadikan lokasi tambak garam. Produksi garam dalam negeri masih berkisar 1,3 – 1,5 juta ton sedangkan kebutuhan dalam negeri. Sementara industri membutuhkan banyak garam untuk keperluan bahan baku utama berbagai produk seperti pipa PVC, biji plastic, pengeboran minyak, hingga kosmetik. Kebutuhan garam industry di Indonesia saat ini berkisar 1,6 – 1,7 juta ton dan diproyeksi akan terus meningkat hingga 2 ton. Tajamnya penurunan produksi garam di beberapa daerah menjadi alasannya. Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), Brahmantya Satyamurti, mengungkapkan bahwa sepanjang tiga bulan dari Mei sampai Juli, total produksi garam dari 15 kabupaten dan gabungan garam konsumsi milik PT Garam hanya 6.200 ton. Produksi garam secara normal per tahunnya mencapai 2 juta ton hingga 2,5 juta ton. Artinya per bulan produksi garam konsumsi secara normal adalah 166.000 ton atau sebanyak 498.000 ton dalam tiga bulan. Jumlahnya merosot tajam dibandingkan total produksi tiga bulan terakhir yang hanya 6.200 ton. Menurunnya produksi garam dalam negeri disebabkan oleh faktor curah hujan yang tinggi. Hujan yang terus menerus mengguyur wilayah- wilayah tertentu di Indonesia karena La Nina menghambat produksi garam.
Untuk mengatasi dampak yang berkepanjangan dan mencegah hal seperti ini terulang, diperlukan perbaruan teknologi yang dapat mempermudah produksi garam dalam negeri. Hal ini disebabkan impor bukanlah solusi jangka panjang. Diperlukan kerjasama dan pantauan intensif antara petani garam sebag, pemerintah, institusi pendidikan sebagai sarana improvement teknologi, dan industri sebagai eksekutor. Harapan selebihnya, rantai pasok garam, baik garam konsumsi maupun untuk industry dapat terpenuhi tanpa terkendala faktor-faktor cuaca, lahan, dan distribusi.


Ceritakan Solusi

avatar

0 Cerita

PROBLEM

 

Selalu tahu yang terbaru