Energi, Travel

Konflik Lingkungan Pembangkit Listrik Tenaga Uap PLTU Batang di Kawasan Konservasi Laut

17 Juli 2017
572 Kali Dilihat

Pembagunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang atau Central Java Power Plan (CJPP) merupakan proyek PLTU terbesar di Asia Tenggara. Proyek ini merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) yang merupakan konsorsium Electric Power Development, Ltd. (J-Power), PT Adaro Power (AP), dan Itochu Corporation serta Japan Bank for International Cooperation (JBIC) yang mengucurkan dana kurang lebih US$ 4,2 miliar untuk proyek tersebut. Proyek yang direncanakan terealisasi di tahun 2020 mengalami berbagai macam hambatan, terutama dari faktor sosial dan lingkungan di Desa Ujung Negoro, Kecamatan Kandeman dan Desa Ponowareng Kecamatan Tulis Kabupaten Batang.

Perubahan ikim menjadi salah satu isu yang diangkat karena PLTU Batang akan melepaskan 10,8 juta karbon per tahun yang menjadi pemicu pemanasan global serta dapat merusak daerah konservasi laut dan mengancam kegiatan nelayan di sana. Konflik lahan dengan petani yang lahannya digusur untuk pembangunan proyek tersebuat seluas 226 hektare juga mengancam pertanian di daerah tersebut. Kebutuhan energi yang tinggi untuk menjalankan dinamika kehidupan masyarakat juga sebanding lurus dengan banyak demonstrasi dari nelayan, petani, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang lingkungan dan advokasi nelayan/petani untuk menolak pembangunan PLTU karena wacana pencemaran lingkungan dan yang mengancam kesejahteraan masyarakat di sekitar.


Ceritakan Solusi

avatar

0 Cerita

PROBLEM

 

Selalu tahu yang terbaru