Kesehatan

Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi Pasca Melahirkan Karena Minimnya Pengetahuan Mengenai Persalinan

12 Juli 2017
394 Kali Dilihat

Angka kematian ibu (AKI) masih tinggi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada 2015 tercatat ada 305 ibu meninggal per 100 ribu orang. Menurut Direktur Jenderal Kesehatan Keluarga Kemenkes Eni Gustina, tingginya angka kematian pada ibu dipengaruhi status kesehatan dan gizi yang rendah[1]. Kematian akibat status kesehatan dan gizi rendah ini dapat dicegah apabila para ibu hamil aware terhadap pentingnya pemeriksaan berkala secara rutin setiap empat bulan sekali selama masa kehamilan, sekaligus pentingnya pemeriksaan faktor resiko kelainan atau penyakit yang berpotensi untuk menjadi fatal saat persalinan.

 

Sejauh ini, langkah yang sudah dilakukan pemerintah untuk masalah ini yaitu dengan pelayanan antenatal terpadu terhadap ibu hamil. Setiap ibu hamil diberikan stiker P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) untuk ditempel di rumah dan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) sebagai panduan. Setiap ibu hamil akan dicatat, didata, dan dipantau.

 

Kendati sudah dilakukannya langkah dari pemerintah sejak lama, angka AKI masih jauh dari target MDG (Millennium Development Goals) pada tahun 2015 yang sebesar 102 kematian per 100 ribu orang[2]. Secara general, hal ini disebabkan karena kurang menjangkaunya program pemerintah ke daerah-daerah terpencil dan minim pendidikan, serta masih kurangnya kesadaran para ibu hamil terhadap pentingnya pengetahuan mengenai kehamilan dan persalinan. Oleh karena itu, demi mencapai target MDG dan untuk mengupayakan agar tidak ada ibu hamil yang meninggal karena masalah pada janin, diperlukan suatu upaya penyadaran secara luas warga masyarakat  mengenai pentingnya mengerti hal-hal terkait persalinan.


Ceritakan Solusi

avatar

0 Cerita

PROBLEM

 

Selalu tahu yang terbaru